Maritim Askep KARSINOMA SEL BASAL
MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN
KARSINOMA SEL BASAL
OLEH:
Nama Nim
Tini wahiyuni S.0017.P.038
Nurbiantoro S.0017.P.020
PRODI PASCASARJANA KEPERAWATAN
STIKES KARYA KESEHATAN
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr, wb
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberi kekuatan dan kesempatan kepada saya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan waktu yang di harapkan walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, dimana makalah ini membahas tentang “ASKEP Karsinoma Sel Basal” dan kiranya makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan kita khususnya tentang bagaimana dan apa bahaya dari penyakit Karsinoma Sel Basal.
Dengan adanya makalah ini, mudah-mudahan dapat membantu meningkatkan minat baca dan belajar teman-teman.selain itu saya juga berharap semua dapat mengetahui dan memahami tentang materi ini, karena akan meningkatkan mutu individu kita.
Saya sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih sangat minim, sehingasaran dari dosen pengajar serta kritikan dari semua pihak masih saya harapkan demi perbaikan laporan ini. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
Kolaka , 22 juli 2020
peyusun
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
A. Latar belakang. 1
B. Tujuan 2
BAB II 3
PEMBAHASAN 3
A. Definisi. 3
B. Etiologi 3
C. Patofisiologi 4
D. Manifestasi Klinik 6
E. Pemeriksaan penunjang 7
F. Tatalaksanaan 7
G. Pencegahan 9
BAB III 10
ASUHAN KEPERAWATAN 10
A. Pengkajian 10
B. Diagnosa 11
C. Intervensi 12
D. Implementasi 14
BAB IV 15
PENUTUP 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang.
Karsinoma Sel Basal (KSB) merupakan neoplasma ganas dari sel yang tidak mengalami keratinisasi pada lapisan basal epidermis, bersifat invasif lokal, agresif, destruktif, dan jarang bermetastasis. KSB lebih sering terjadi pada usia lanjut. Etiopatogenesis yang berkaitan dengan KSB adalah genetik, lingkungan, dan yang paling sering adalah paparan sinar ultraviolet. Secara klinis, terdapat lima tipe KSB, yaitu nodular, superfisial, morpheaform, pigmented, dan fibroepitelioma Pinkus. Deteksi dini kanker kulit dapat dilakukan dengan pemeriksaan kulit sendiri (SAKURI). Diagnosis pasti keganasan ditentukan dengan pemeriksaan patologi anatomi. Namun, untuk lesi sangat dini KSB sulit ditentukan dengan pewarnaan hematoksilin eosin. Oleh karena itu, digunakanlah pewarnaan Ber-EP4 yang bersifat spesifik dan sangat sensitif untuk KSB dini yang tumbuh sebagai tunas di lapisan basal epidermis dan folikel. Temuan ini sangat berarti dalam pengembangan patologi molekuler dan penanganan klinis lesi KSB atau yang dicurigai KSB (Riordan Eva, 2010).
Karsinoma sel basal (KSB)disebut juga basalioma adalah tumor ganas kulit yang
paling sering ditemukan terutama pada orang kulit putih. Di Australia jumlah kasus baru KSB 652/tahun/100 ribu penduduk sedangkan di Amerika Serikat 480/tahun/100 ribu penduduk. Di Indonesia menurut data Badan Registrasi Kanker Ikatan Ahli Patologi Indonesia tahun 1989, dari 1530 kasus kanker kulit, yang terbanyak adalah kasus karsinoma sel basal yaitu 39.93%.Insidens KSB hampir 80% dari semua kanker kulit non-melanoma; Australia memiliki insidens KSB tertinggi di dunia, kejadiannya hingga persen per tahun.Insidensnya pada tahun 1997 adalah 2.058 per 100.000 penduduk untuk pria dan 1.194 untuk wanita terutama di daerah paling dekat khatulistiwa. Amerika Serikat melaporkan 407 kasus KSB per 100.000 pria dan 212 kasus per 100.000 wanita; terbanyak pada pria lanjut usia (Reginata Mahmud, 2016).
Pertama sekali yang melaporkan Karsinoma Sel Basal ini adalah Jacob pada tahun 1827 yang meruapakn suatu sel invasi dan metastase yang lambat, serta jarang menimbulkan kematian. Karsinoma Sel Basal ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang yang kulit berwarna, dan pengaruh sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan Karsinoma Sel Basal. Pria lebih banyak dari pada wanita dan umumnya di atas 40 tahun (Reginata Mahmud, 2016).
Bertambahnya usia akan meningkatkan risiko pajanan UV secara kumulatif dan menurunkan kapasitas serta kemampuan perbaikan kerusakan DNA. Penurunan densitas melanosit kulit pada usia lanjut juga menyebabkan penetrasi UV ke dalam dermis lebih ekstensif, menyebabkan kerusakan lebih luas. Oleh karena itu, peningkatan usia meningkatkan risiko kanker kulit nonmelanoma. Insidens KSB 5 kali lebih tinggi pada usia di atas 75 tahun dibandingkan pada usia 50-55 tahun. Penelitian di Makassar melaporkan KSB lebih banyak pada wanita dibandingkan pria.Peningkatan insidens pada wanita terutama pada usia <40 tahun disebabkan oleh perubahan gaya hidup, gaya berpakaian, dan pajanan UV karena aktivitas di luar ruangan (pekerjaan, rekreasi) ataupun pajanan UV buatan (tanning beds).24-26 Penelitian di Belgia melaporkan KSB usia <60 tahun lebih sering terjadi pada wanita, sedangkan usia >60 tahun lebih umum pada pria (Synthia Sari & Dkk, 2019) .
B. Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan karsinoma sel Basal mulai dari definisi, etiologi, patofisiologi,manifestasi klinik,pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan serta contoh askep mulai dari pengkajian,diagnosa,intervensi implementasi dan evaluasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi.
Karsinoma Sel Basal ( KSB ) adalah neoplasma ganas dari sel epitelial yang lebih mirip sel germinatif folikel rambut dibandingkan dengan lapisan sel basal epidermis. KSB merupakan tumor fibroepitelial yang terdiri atas komponen stroma interdependen ( jaringan fibrosa ) dan epitelial. Sel tumornya berasal dari primordial pluropotensial di lapisan sel basal, dan dapat juga dari selubung akar luar folikel rambut atau kelenjar sebasea atau adneksa kulit lain. Nama lain dari Karsinoma Sel Basal ini adalah Basalioma, Basal Sel Epitelioma, ulkus rodens, ulkus Jacob, tumor komprecher, basal sel karsinoma (Yahya, 2012).
Karsinoma sel basal (KSB) atau basalioma merupakan keganasan pada kulit yang berasal dari sel basal epidermis.Angka kejadian KSB di dunia lebih tinggi pada populasi berkulit putih, jenis kelamin laki-laki (3:2), dan pada usia lanjut (50-80 tahun (Yahya, 2012).
Menurut Stadium Clarke I-V, kriteria berdasarkan ketebalan tumor :
Stadium Clarke Ketahanan 5 tahun ( % ) Ketebalan tumor ( mm )
I ( Epidermis ) 100 < 0,76
II ( dermis papiler ) 90-10 0,76 – 1,49
III ( dermis papiler/retikuler ) 80 – 90 1,50 – 2,49
IV ( dermis retikuler ) 60 – 70 2,50 – 3,99
V ( lemak subkutan ) 15 – 30 4,00 – 7,99
B. Etiologi
Hingga saat ini, mekanisme pertumbuhan dan perkembangan KSB masih menjadi perdebatan. Secara teori, etiopatogenesis KSB berhubungan dengan faktor genetik dan lingkungan, terutama paparan sinar matahari UVB. Radiasi UV, terutama UVB dengan spektrum 290–320 nm diduga sebagai faktor risiko utama KSB. Pada panjang gelombang tersebut dapat ter jadi mutasi pada tumor suppressor gene (p53) (Sukmawati Tansil, 2016).
Faktor genetik yang berperan pada KSB terdapat pada kromosom 1 dan satu varian dari setiap kromosom 5, 7, 9, dan 12, berhubungan dengan ketidakmampuan proteksi terhadap paparan sinar matahari. Mungkin juga berkaitan dengan faktor risiko tambahan terhadap paparan sinar matahari yang bersifat heterozigot. Pada kelainan genetik yang bersifat homozigot seperti pada sindrom nevoid KSB atau sindrom Gorlin, KSB berhubungan dengan Sonic Hedgehog Pathway signaling (SHH) (Rifani, 2019)
Faktor lingkungan lain yang diketahui dapat memicu terjadinya KSB adalah paparan hidrokarbon, arsenik, coal, tar dan obat topikal methoxipsoralen.Rangsangan onkogen, kondisi imunosupresif, luka kronis, dan trauma akut juga terbukti sebagai faktor pencetus timbulnya tumor kulit, memicu pertumbuhan keratinosit menjadi lesi KSB (Irma Sutedja dkk, 2018).
C. Patofisiologi
Radiasi sinar ultraviolet adalah penyebab paling umum dari kanker kulit baik yang melanoma maupun yang non melanoma. Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh binatang, sinar ultraviolet dengan panjang gelombang yang paling efektif adalah UVB. Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan dari UVB itu sendiri untuk menembus kedalam lapisan ozon dan juga startum korneum yang akhirnya akan diabsorbsi oleh DNA. Langkah pertama dari proses karsinogenik ini adalah penginduksian DNA oleh photon UVB. Photon UVB ini biasanya akan diabsorbsi pada 5 – 6 ikatan dobel dari pyrimidine, yang akan menyebabkan terbukanya ikatan tersebut. Sebagai hasilnya akan terbentuk cyclobutane dimmer atau pyrimidine-pyrimidone photoproduct. Keduanya menyebabkan struktur DNA yang abnormal (Riordan Eva, 2010).
Pada saat terjadi replikasi DNA, DNA polymerase sering salah memasukkan cytosine yang telah rusak berseberangan dengan thymine. Mutasi ini muncul hanya apabila cytosine berada berseberangan dengan thymine atau dengan cytosine yang lain, yang merefleksikan sisi spesifik dimana photoproduct UV muncul. Dua gen yang secara normal dapat mencegah terjadinya kanker akan tetapi menjadi tidak aktif pada kanker kulit adalah PTCH dan P53. PTCH yang merupakan komponen dari jalur signal seluler, bermutasi pada sekitar 90% dari BCC. Sedangkan P53 yang mengkode regulator dari siklus sel dan kematian sel bermutasi bermutasi pada sekitar setengah dari BCC dan lebih dari 90% SCC (Riordan Eva, 2010).
Aspek terpenting dari basalioma adalah bahwa kanker kulit ini terdiri dari sel tumor epithelial berasal dari sel primitive selubung akar rambut sementara komponen stroma menyerupai lapisan papilaris dermis dan terdiri dari kolagen, fibroblast dan subtansia dasar yang sebagian besar berupa berbagai jenis glukosa aminoglikans (GAGs). Kedua komponen ini saling ketergantungan sehingga tidak bisa berkembang tanpa komponen yang lainnya. Hubungan ketergantungan ini sifatnya sangat unik, hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa basalioma sangat jarang bermetastase dan mengapa pertumbuhan basalioma pada kultur sel dan jaringan sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan bolus metastase yang besar dengan komponen sel dan stroma didalamnya sulit memasuki system limfatik ataupun system vascular. Dan inilah yang membedakan antara basalioma dengan melanoma maligna dan karsinoma sel skuamosa yang keduanya sering mengadakan metastase (Riordan Eva, 2010).
Dianggap berasal dari sel-sel pluripotensial (sel yang dapat berubah menjadi sel-sel lain) yang ada pada stratum basalis epidermis atau lapisan follikuler. Sel ini diproduksi sepanjang hidup kita dan membentuk kelenjar sebacea dan apokrin. Tumor tumbuh dari epidermis dan muncul dibagian luar selubung akar rambut, khususnya dan stem sel folikel rambut, tepat dibawah duktus glandula sebacea.
Sinar ultraviolet menginduksi mutasi pada gen suppressor tumor p53, yang terletak pada kromosom 17p. Sebai tambahan mutasi gen suppressor tumor pada lokus 9q22 yang menyebabkan sindrom nevoid basalioma, suatu keadaan autosomal dominan ditandai dengan timbulnya basalioma secara dini. Mutasi pada gen supresi tumor p53 ditemukan dalam hampir 50% kasus karsinoma sel basal secara sporadic.Kebanyakan dari mutasi ini adalah translasi dari C → T dan CC → TT pada susunan dipyrimidine, yang merupakaan mutasi khas yang mengindikasikan bahwa adanya paparan terhadap radiasi ultraviolet B. Akhir-akhir ini terdapat nucleus β-catenin yang menunjukkkan hubungannya dengan peningkatan proliferasi sel tumor. Fungsi spesifik dari gen-gen ini masih belum diketahui (Riordan Eva, 2010).
D. Manifestasi Klinik
Gambaran klinis awal berupa papul atau nodul kecil, translusen, berkilap seperti mutiara, telangiektasia, rolled border, pada perabaan keras seperti ada mutiara dalam kulit.2-4 Lesi yang besar disertai nekrosis bagian tengah merupakan dasar terjadinya ulkus Rodent. Subtipe superfisial biasanya terdapat pada badan, berupa plak eritematosa dan tampak multisentris. Biasanya dihubungkan dengan ingesti arsenik kronis (Irma Sutedja dkk, 2018)
Bentuk ini menyerupai penyakit Bowen, lupus eritematosus, psoriasis, atau dermatomikosis. Subtipe KSB berpigmen berupa papul translusen, hiperpigmentasi, dan dapat mengalami erosi. Subtipe morfea tampak sebagai plak sklerotik yang cekung, tumbuh secara agresif, berwarna putih atau kuning, berkilat menyerupai skar atau lesi morfea.Fibroepitelioma Pinkus biasanya terdapat pada punggung bawah berupa papul merah muda tidak bertangkai atau bertangkai pendek, permukaannya halus, warna bervariasi, sulit dibedakan dengan akrokordon atau skin tag. (Irma Sutedja dkk, 2018).
(Sukmawati Tansil, 2016) adapun gambaran klinik KSB bervarisasi, Lever membagi KSB menjadi 5 bentuk ;
1. Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens
2. Berpigmen
3. Morfea atau fibrosing atau sklerosing
4. Superficial
5. Fibroepitelioma
Di samping itu terdapat pula 3 sindroma klinis, di mana epitelioma sel basal berperan penting , yaitu :
1. Sindroma epitelioma sel basal nevoid
2. Nevus sel basal unilateral linier
3. Sindroma Bazex (merupakan atrofoderma folikuler dengan epitelioma sel basal multipel)
E. Pemeriksaan penunjang
Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik (gejala klinis), dan pemeriksaan histopatologis. Dari anamnesis terdapat kelainan kulit terutama dimuka yang sudah berlangsung lama berupa benjolan kecil, tahi lalat, luka yang sukar sembuh, lambat menjadi besar dan mudah berdarah. Tidak ada rasa gatal / sakit. Pada pemeriksaan fisik terlihat papul / ulkus dapat berwarna seperti warna kulit atau hiperpigmentasi. Pada palpasi teraba indurasi. Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan histopatologi yaitu dengan dilakukan biopsi. Pada setiap kelainan kulit yang tersangka ksb harus dilakukan biopsi.biasa juga dilakukan Foto polos ( x-ray ) terutama pada lesi bcc yang besar dan luas untuk melihat adanya inflitrasi sel tumor pada tulang di bawahnya dan ct scan untuk melihat luas destruksi tulang, operabilitas dan perencanaan pembedahan (Rifani, 2019).
F. Tatalaksanaan
Tujuan karsinoma sel basal yaitu kesembuhan dengan hasil kosmetik yang baik karena umumnya karsinoma sel basal terdapat pada wajah. Terapi dapat bersifat preventif dan kuratif. Banyak metode pengobatan karsinoma sel basal yaitu ;
1. Preventatif
Oleh karena sinar matahari predisposisi utama untuk terjadi kanker kulit maka perlu diketahui perlindungan kulit terhadap sinar matahari, terutama bagi orang-orang yang sering melakukan aktifitas diluar rumah dengan cara memakai sunscreens (tabir surya) selama terpajan sinar matahari. Penggunaan tabir surya untuk kegiatan diluar rumah diperlukan tabir surya dengan SPM yang lebih tinggi (>15-30). Adanya hubungan antara terbentuknya berbagai radikal bebas antara lain akibat sinar UV pada beberapa jenis kanker kulit, telah banyak dilaporkan. Pemakaian antioksidan dapat berfungsi untuk menetralkan kerusakan atau mempertahankan fungsi dari serangan radikal bebas. Telah banyak bukti bahwa terpaparnya jaringan dengan radikal bebas dapat mengakibatkan berbagai gejala klinik atau penyakit yang cukup serius. Akibat reaksi oksidatif radikal bebas di DNA menimbulkan mutasi yang akhirnya menyebabkan kanker. Diantara antioksidan tersebut adalah ; betakaroten, vitamin E, dan vitamin C (Reginata Mahmud, 2016).
2. Kuratif
Bedah eksisi Bedah eksisi atau bedah skalpel pada KSB dini memberikan tingkat sembuhan yang tinggi.1
Radiotera(pria diasiio nisasi) Penyinaran lokal diberikan lapangan radiasi meliputi tumor dengan 1 - 2 cm jaringan sehat disekelilingnya. Pe nyinaran dilakukan dengan dosis 200 cGy per fraksi, 5 fraksi dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy. (Reginata Mahmud, 2016).
3. Operasi
Terapi operatif untuk karsinoma sel basal di antaranya eksisi standar, Mohs micrographic surgery, kuretase, dan cryotherapy. Eksisi standar dilakukan pada karsinoma sel basal yang kecil (kurang dari 2 cm) pada tubuh atau ekstremitas dan tanpa gambaran histologis yang agresif (Rifani, 2019)
4. Non Operasi
a. Terapi topikal Imiquimod digunakan untuk karsinoma sel basal superfisial kurang dari 2 cm pada lokasi anatomik dengan risiko rendah, yang tidak dapat dilakukan terapi operatif. 5-Fluorouracil (5-FU) digunakan secara topikal untuk pengobatan actinic keratoses dan karsinoma sel basal superfisial.
b. Terapi radiasi seperti superficial x-ray therapy (XRT), external beam radiation therapy dan brachytherapy juga dapat digunakan pada terapi karsinoma sel basal.
c. Terapi Photodynamic Terapi Photodynamic adalah modalitas baru untuk pengobatan karsinoma sel basal, yang dikelola oleh aplikasi photosensitizers ke daerah sasaran. Ketika molekul ini diaktifkan oleh cahaya, mereka menjadi beracun, sehingga menghancurkan sel target. Metil aminolevulinate disetujui oleh Uni Eropa sebagai fotosensitizer sejak tahun 2001. Terapi ini juga digunakan dalam jenis kanker kulit lainnya (Rifani, 2019).
G. Pencegahan
1. Perlindungan Sun – memakai topi bertepi lebar, UV-pelindung kacamata hitam, kemeja lengan panjang dan celana
2. Gunakan tabir surya (SPF> 30) dan berlaku sebelum berenang atau olahraga dan ulangi setiap 2-3 jam. Tetap di bawah naungan.
3. Monitor mencurigakan bintik-bintik atau mol. Periksa bintik-bintik atau tahi lalat yang baru, tumbuh cepat, gatal-gatal, berdarah atau perubahan warna.
4. Temui dokter Anda jika Anda memiliki borok yang tidak sembuh (Synthia Sari & Dkk, 2019)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, alamat, diagnosa medik, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan tanggal pengkajian.
2. Keluhan utama
3. Riwayat Penyakit Sekarang
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
5. PemeriksaanFisik
a. Kepala : Rambut bersih atau kotor, warna rambut, ada lesi atau tidak
b. Mata dantelinga :Konjungtivaanemisatautidak, pupil isokoranisokor, lubangtelingakotoratautidak.
c. Hidung :Lubang hidung sama besar atau tidak, sekitar hidung kotor atau bersih, ada polip atau tidak.
d. Mulut :Sianosis atau tidak, sekitar mulut kotor atau bersih.
e. Kulit
Inspeksi : ada perubahan warna atau tidak, ada lesi, warna lesi, luas lesi, banyak area yang terkena
Palpasi : kering atau lembab, halus atau kasar, nyeri atau tidak saat ditekan, teraba hangat atau dingin, acral dingin atau panas.
f. Dada/jantung/paru
1) Paru-paru :
Inspeksi : Bagaimanakembangkempis dada, simetrisatautidak
Palpasi : Bagaimanasterfimituskanankirisamaatautidak
Perkusi : Pekakseluruhlapangparuatautidak
Auskultasi : Suaracordiustampakatautidak
2) Jantung :
Inspeksi : Ictus cordistampakatautidak
Palpasi : Ictus cordisterabaatautidak
Perkusi : Konfigurasi normal atautidak
Auskultasi :Terdapatsuara abnormal atautidak
g. Perut
Inspeksi : Tidak asites
Auskultasi : Terdengar bising usus
Palpasi : Ada nyeri atau tidak
Perkusi : kembung atau tidak
h. Genitalia
Apakahterpasangkateteratautidak, bersihatautidak.
i. Extremitas
Atas : oedem atau tidak, terpasang infus atau tidak
Bawah : oedem atau tidak
B. Diagnosa
1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat kanker pada kulit.
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topikal, dan/atau terapi radiasi.
3. Ansietas berhubungan dengan konsekuensi kanker yang menimbulkan kecacatan dan kematian.
C. Intervensi
No Diagnosa Tujuan & kriteria hasil (NOC) Intervensi (NIC)
1. Kode : D.0129
Kategori : Lingkungan
Sub Kategori : Keamanan dan proteksi
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal- epidermal sekunder akibat kanker pada kulit.
.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Intergritas kulit dan jarinngan ( L.14125)
Skala 1. Meningkat
2. Cukup meningkat
3. Sedang
4. Cukup menurun
5. Menurun
Dengan kriteria :
1. Kerusakan jaringan (skala 1 menjadi 3)
2. Kerusakan lapisan kulit(skala 3 menjadi 5) Intervensi keperawat
Perawatan itergitas kulit (1.11353)
1. Identifikasi penyebab gangguan intergitas kulit (mis. Perubahan sirkulasi, perubahan status nutris, penurunan kelembapan , suhu lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas).
2. Bersikan perineal dengan air hangat, terutama selama periode diare
3. Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem.
2. Kode : D.0083
Kategori : psikologis
Sub Kategori : integritas Ego
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topikal, dan/atau terapi radiasi.
Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Citra Tubuh ( L. 09067)
Skala 1. Memburuk
1. Cukup Memburuk
2. Sedang
3. Cukup Membaik
4. Membaik
Dengan kriteria :
1. Melihat bagian tubuh ( skala 1 menjadi 4)
2. Verbalisasi kehilangan bagian tubuh Intervensi keperawat
Promosi citra tubuh (1.03136)
1. Identifikasi harapa citra tubuh berdasarkan tahan perkembangan
2. Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
3. Jelaskan kepada keluaga tentang perawatan perubahan citra tubuh
3. Kode : D.0055
Kategori : fisiologis
Sub Kategori : aktifitas dan istirahat
Ansietas berhubungan dengan konsekuensi kanker yang menimbulkan kecacatan dan kematian.
Setelh dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam/menit
Tingkat Ansietas ( L. 09093)
Skala :
1. Menurun
2. cukup menurun
3. sedang
4. cukup meningkat
5. meningkat
Dengan kriteria :
1. Perilaku gelisah (skala 4 menjadi 2)
2. Parilaku tegang (menjadi 3 menjadi 5) Intervensi keperawat
Terapi Relaksasi (1.09326)
1. Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif
2. Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa ganggua dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan
3. Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
D. Implementasi
Hari / tanggal implementasi evaluasi
Senin
13 juni 2020 1. mengidentifikasi penyebab gangguan intergitas kulit (mis. Perubahan sirkulasi, perubahan status nutris, penurunan kelembapan , suhu lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas).
2. membersikan perineal dengan air hangat, terutama selama periode diare
3. menganjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem. S: klien mengatakan kesulitan ketika bernafas
O: Nampak sesak bernafas
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
Senin
13 juni 2020 1. mengidentifikasi harapa citra tubuh berdasarkan tahan perkembangan
2. mendiskusikan perubahan tubuh dan fungsinya
3. menjelaskan kepada keluaga tentang perawatan perubahan citra tubuh S: klien mengatakan nyeri ketika bernafas
O: Nampak meringis
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
Senin
13 juni 2020 1. mengidentifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif
2. menciptakan lingkungan tenang dan tanpa ganggua dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan
3. menjelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih S: klien mengatakan susah tidur
O: Nampak gelisah
A: intervensi belum teratasi
P: lanjutkan
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karsinoma sel basal ( BCC ) atau basalioma adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel basal epidermis ataupun sel folikel rambut sehingga dapat timbul pada kulit yang berambut (Manuaba, 2010 ).
Faktor predisposisi dan pajanan sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan karsinoma sel basal.Diagnosa karsinoma sel basal didiagnosis berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologi.
Pengobatan karsinoma sel basal bertujuan untuk kesembuhan atau mencegah kemungkinan meluasnya kanker dan bertambah parahnya, sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik.Asuhan keperawatan ditegakkan guna memenuhi proses kesembuhan klien.A
B. Saran
1. Untuk mahasiswa diharapkan agar memahami segelah penjelasan dalam makalah ini dan menjadi salah sau referensi pembelajaran
2. Untuk dosen diharapkan segalah kritik dan saran agar kedepanya bisa membua makalah asuhan keperawatan Karsinoma sel basal bisa lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar