ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK IRRITABLE BOWEL SYNDROME KELOMPOK 5

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
IRRITABLE BOWEL SYNDROME

 



OLEH:
KELOMPOK V
Bangkit astowin S.0017.P.011
Ilmi nurul rahmah S.0017.P.017
Leni ani safitri S.0017.P.023
Samsul S.0017.P.032
Suramadhan S.0017.P.037
Nurbiantoro S.0016.P.020






SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
KENDARI
2019 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT,Karena berkat  rahmat-Nya  kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun solawat serta salam buat untuk imam besar  kita semua Nabi Muhammad SAW.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun redaksinya. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menyusun makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi  bagi kita dalam memajukan ilmu keperawatan.



Kendari, 23 juli 2020 
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar belakang 4
B. Tujuan 5
C. Manfaat 6
BAB II 7
TINJAUAN TEORI 7
A. Definisi 7
B. Anatomi fisiologi 7
C. Etiologi 8
D. Patofisiologi 8
E. Pathway 9
F. Manifestasi klinis 9
G. Klasifikasi 9
H. Komplikasi 10
I. Pemeriksaan penunjang 10
J. penatalaksanaan 10
BAB III 13
KONSEP KEPERAWATAN 13
A. Pengkajian 13
B. Diagnosa 15
C. Kriteria Hasil 15
D. Intervensi 15
BAB IV 17
ASUHAN KEPERAWATAN 17
A. Kasus 17
B. Pengkajian 17
C. Analisa data 20
Tabel 1. Analisis data 20
D. Diagnosa 20
E. Rencana asuhan keperawatan 21
Tabel 2. Rencana asuhan keperawatan 22
F. Implementasi & evaluasi 23
BAB V 26
PENUTUP 26
A. Kesimpulan 26
B. Saran 26
DAFTAR PUSTAKA 27




 
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah salah satu penyakit kronis yang tidak mengancam jiwa tetapi berdampak besar pada kualitas hidup seseorang. Sindrom ini merupakan gangguan pencernaan kronis  yang  ditandai dengan ketidak nyamanan perut karena rasa sakit, kembung dan perubahan kebiasaan buang air besar. Meskipun sindrom ini tidak terkait dengan meningkatnya risiko kanker atau kematian, tetapi memiliki dampak pada peningkatan biaya perawatan kesehatan secara signifikan karena sulitnya menegakkan diagnosis yang tepat(Selina et al., 2019).
Prevalensi IBS bervariasi di seluruh dunia karena tidak adanya kriteria diagnosis spesifik dan tidak ada data yang tersedia dari beberapa wilayah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenifer et al (2013), di perkirakan bahwa prevalensi IBS dalam satu populasi adalah 10-20%, dan tingkat kejadian antara 1- 2% per tahun(2). Sindrom ini mempengaruhi sekitar 12% orang Kanada, 9% orang Australia, dan lebih tinggi pada orang Amerika, yaitu mencapai 20% dari populasi 5, 6, 7. Di Asia Pasifik, IBS sangat banyak terjadi di Negara maju, seperti Beijing (0,82%), Cina Selatan (5,7%), Hong Kong (6,6%), Singapura (8,6%), Pakistan (14) %), dan Taiwan (22,1%)8. Di Indonesia sendiri, tidak ada data nasional tentang prevalensi IBS. Namun, salah satu penelitian di Jakarta mengungkapkan bahwa terdapat 304 kasus gangguan pencernaan yang tergabung dalam Asian Disunctional Gastrointestinal Disorders Study (AFGID) pada 2013. Dilaporkan bahwa 5,3 % di antaranya adalah konstipasi fungsional, dan 10,5% adalah IBS dengan konstipasi dominan (IBS-C). Sebagai tambahan, IBS dapa tterjadi pada semua kelompok umur, dengan mayoritas berusia 20- 30 tahun. Gejala ini berkurang seiring bertambahnya usia.  Prevalensi IBS pada wanita sekitar 1,5 -2 kali lebih tinggi dari pada pria.
Penurunan system kerja organ yang tidak dapat bekerja dengan baik seperti sebelumnya dapat mempengaruhi kinerja system pencernaan pada lansia. Berkurangnya fungsi indera pengecap dan keadaa ngigi yang sudah tidak lengkap menyebabkan berkurangnya nafsu makan pada lansia. Konstipasi yang terjadi pada lansia cenderung terjadi oleh karena asupan serat yang kurang dan perubahan fungsi gastrointestinal (Muzakar& Bella, 2018). Penyebab lain dari konstipasi pada lansia antara lain diet rendah serat, terlalu sering memakan daging, kurang minum dan stress (Vita, Zen &Suyatno, 2015). Kurang aktifitas fisik serta sering menahan keinginan untuk buang air besar juga dapat menyebabkan konstipasi (Budi & Dian, 2016).
Lansia yang diberi diet tinggi serat tidak mengalami konstipasi sedangkan lansia yang tidak diberi diet tinggi serat mengalami konstipasi(Imanuela, Sulistiono and Malinti, 2019) Pada penelitian lain menunjukkan bahwaserat yang didapat dari mengkonsumsi buah-buhan  serta sayur-sayuran merupakan sumber serat yang paling baik dan mudah larut sehingga tidak menimbulkan konstipasipa pada lansia(Imanuela, Sulistiono and Malinti, 2019).
Asupan serat yang kurang menjadi salah satu factor utama terjadinya konstipasi pada lansia. Maka dari itu sebagai seorang perawat gerontik disinilah perankita, dimana kita harus memberikan edukasi pada lansia tentang pentingnya konsumsi makanan yang banyak mengandung serat dan Membantu Lansia Mengatur Pola Makan.

B. Tujuan 
1. Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit Irritable Bowel Syndrome
2. Mahasiswa mengetahui cara mencegah Irritable Bowel Syndrome
3. Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit Irritable Bowel Syndrome
C. Manfaat 
1. Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus Irritable Bowel Syndrome
2. Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan Irritable Bowel Syndrome
3. Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai kasus Irritable Bowel Syndrome
 
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Irritabel bowel syndrome (IBS) merupakan kelainan fungsional saluran cerna yang sering terjadi yang ditandai dengan nyeri perut, rasa tidak nyaman diperut dan perubahan pola buang air besar (BAB). Sebagai gejala tambahan pada nyeri perut, diare atau konstipasi, gejala khas lain meliputi perut kembung, adanya gas dalam perut, stool urgensi atau strining dan perasaan evakuasikotoran tidak lengkap Irritabel bowel syndrome merupakan penyakit yang sangat sering ditemukan.
Irritable bowel syndrome (IBS) adalah salah satu penyakit gastrointenstinal fungsional. Irritable bowel syndrome memberikan gejala berupa adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan organic (anandita Nur Safira, 2015).
 Irritable bowel syndrome merupakan penyakit yang terjadi akibat terjadinya infeksi pada saluran pencernaan yang dapat mengakibatkan komplikasi seperti konstipasi.
B. Anatomi fisiologi
Fisiologi sensasi dalam usus beragam. Sel enteroendokrin mengirimkan pesan mekanis dan kimia. Komunikasi antara usus dan otak menghasilkan respons refleks yang dimediasi pada tiga tingkatan — ganglia prevertebralis, sumsum tulang belakang, dan batang otak. 5-HT, zat P, CGRP, norepinefrin, kappa opiate dan nitrat oksida semuanya terlibat dalam persepsi dan respons otonom terhadap stimulasi visceral (Gambar 5). Sensasi disampaikan dari viskus ke persepsi sadar melalui neuron dalam serat vagal dan parasimpatis. Saraf aferen di ganglion akar dorsal sinapsis dengan neuron di tanduk dorsal. Sinyal-sinyal ini menghasilkan refleks yang mengontrol fungsi motorik dan sekretori saat bersinaps dengan jalur eferen di ganglia prevertebralis dan sumsum tulang belakang. Nyeri diproses melalui aferen tulang belakang di tanduk dorsal. Akhirnya, stimulasi batang otak membawa sensasi ke tingkat sadar (Gambar 6). Pensinyalan dua arah antara batang otak dan klakson dorsal memediasi sensasi. Jalur menurun terutama adrenergik dan serotonergik dan mempengaruhi rangsangan yang masuk. Sensitivitas organ akhir, perubahan intensitas stimulus atau ukuran bidang reseptif dari neuron horn dorsal dan modulasi sistem limbik adalah mekanisme yang terlibat dalam hipersensitivitas visceral(Charnoff et al., 2013).
C. Etiologi
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya IBS antara lain gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensoris, abnormalitas dari interaksi aksis brain- gut, hipersensitivitas viseral, dan pasca infeksi usus(anandita Nur Safira, 2015).
Adanya IBS predominan diare atau predominan konstipasi menunjukkan bahwa pada IBS terjadi sesuatu perubahan motilitas. Pada IBS tipe diare terjadi peningkatan kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus. Sedangkan IBS tipe konstipasi terjadipenurunan kontraksi usus dan memanjangnya waktu transit kolon dan usus halus. IBS yang terjadi pasca infeksi dilaporkan hampir pada 1/3 kasus IBS. Penyebab IBS paska infeksi antara lain virus, giardia atau amuba.
D. Patofisiologi
Patofisiologi IBS belum sepenuhnya dipahami. IBS mungkin mencakup beberapa penyakit dengan patofisiologi berbeda yang memiliki gejala serupa. Teori klasik adalah IBS merupakan sindrom karena abnormalitas motilitas usus, sensasi viseral, interaksi brain-gut, dan distres psikososial. Perubahan imunitas usus, permeabilitas usus, dan mikrobiota intestinal juga akhir-akhir ini dianggap berperan. Model biopsikososial dianggap mempengaruhi interaksi otak dan usus. Faktor-faktor pada awal kehidupan yang dianggap berkontribusi dalam perkembangan IBS adalah gangguan dinamika keluarga, infeksi saluran pencernaan, dan penggunaan antibiotik sistemik. Faktor-faktor ini dianggap sebagai predisposisi gangguan persarafan, motilitas dan sensasi viseral usus, serta gangguan kesehatan mental.Pencetus lingkungan dapat memicu perkembangan atau eksaserbasi gejala pada pasien dengan faktor-faktor predisposisi tersebut. Pemicu tersebut dapat berupa makan atau stres yang menyebabkan nyeri abdomen dan perubahan aktivitas usus yang khas pada pasien IBS(Shalim, 2019)
E. Pathway 
         
F. Manifestasi klinis
Kebiasaan buang air besar yang tidak normal dan hipersensitivitas perut, atau berkurangnya ambang rasa sakit, adalah tanda-tanda klinis khas dari IBS(Beatty et al., 2014).
Gejala yang mendukung termasuk berikut ini:
1. perubahan frekuensi tinja 
2. Perubahan bentuk tinja 
3. Perubahan jalan keluar tinja (penyempitan dan/atau urgensi) 
4. Mukorrhea 
5. Perut kembung atau distensi yang bersifat subjektif(Pratama, 2017).
G. Klasifikasi
Menurut kriteria Roma III dan berdasarkan pada karakteristik feses pasien, subklasifikasi IBS dibagi menjadi: 
1. IBS predominan diare (IBS-D):
a. Feses lunak >25 % dan feses keras <25% dalam satu waktu
b. Terjadi pada 1/3 kasus 
c. Sering pada pria
2. IBS predominan konstipasi (IBS-C):
a. Feses keras >25% dan feses lunak <25% dalam satu waktu
b. Terjadi pada 1/3 kasus
c. Sering pada wanita
3. IBS campuran(IBS-M):
a. Defekasi berubah-ubah: diare dan konstipasi
b. 1/3 – ½ dari kasus
H. Komplikasi 
Irritable Bowel Syndrome IBS tidak berbahaya dan tidak menimbulkan komplikasi kanker. IBS adalah penyakit serius dengan efek samping seperti konstipasi, diare dan nyeri perut(anandita Nur Safira, 2015)
I. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk IBS meliputi pemeriksaan darah lengkap, LED,biokimia darah dan pemeriksaan mikrobiologi dengan pemeriksan telur, kista dan parasit pada kotoran(anandita Nur Safira, 2015). Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis diferensial, yaitu: 
1. Pemeriksaan darah lengkap
2. Pemeriksaan biokimia darah; 
3. Pemeriksaan hormon tiroid; 
4. Sigmoidoskopi; 
5. Kolonoskopi
J. penatalaksanaan
1. Non-farmakologi
Manifestasi klinis IBS yang bervariasi, bahkan dalam masing-masing subtipe menyulitkan pembuatan algoritma. Tatalaksana IBS diawali dengan penjelasan kondisi kepada pasien, meyakinkan bahwa kondisi ini tidak berbahaya, dan edukasi mengenai manfaat dan keamanan tiap pilihan pemeriksaan diagnostik dan terapi(Shalim, 2019).
Modifikasi gaya hidup dianggap dapat memperbaiki gejala IBS, termasuk olahraga, pengelolaan stres, dan perbaikan kualitas tidur. Suplementasi serat pangan masih menjadi dasar terapi IBS, meskipun dianggap tidak memberikan dampak besar. Serat yang dianggap bermanfaat untuk gejala IBS adalah serat larut air (sekam psyllium), sedangkan serat tidak larut air malah dapat memperberat distensi abdomen.
2. Terapi Farmakologi IBS-D 
a. Loperamide, Pada pasien IBS-D dengan diare sebagai gejala utama, loperamide adalah lini pertama yang paling umum digunakan. Loperamide merupakan agonis reseptor µ-opioid perifer sintetis yang menghambat peristaltik dan memperpanjang waktu transit usus, serta meningkatkan absorpsi air dan ion, sehingga mengurangi volume feses. Loperamide pada pasien IBS memperbaiki konsistensi feses dan frekuensi BAB, namun tidak memiliki efek bermakna dalam mengurangi nyeri abdomen dan gejala abdominal lain. Loperamide juga berkaitan dengan konstipasi, sehingga sebaiknya dimulai dengan dosis rendah (1-2 mg/ hari) dan dititrasi sesuai kebutuhan untuk memperbaiki fungsi usus.
b. Antagonis Reseptor 5-HT3, Hormon serotonin usus mempengaruhi motilitas saluran cerna dan sensasi viseral. Di Amerika Serikat, penggunaan alosetron (0,5-1 mg sebanyak 1-2 kali per hari) sebagai antagonis 5-HT3 disetujui untuk menangani IBS-D berat. Namun, penggunaannya terbatas karena dapat menyebabkan kolitis iskemik dan konstipasi berat meskipun sangat jarang (0,95 dan 0,36 kasus per 1000 pasien). Di Indonesia, ondansetron sebagai antagonis 5-HT3 dapat dipertimbangkan meskipun potensinya lebih rendah dibandingkan alosetron. Pemakaian ondansetron (4-8 mg sebanyak 1-3 kali per hari) dalam suatu penelitian menunjukkan perbaikan konsistensi feses, gejala IBS, frekuensi BAB, dan rasa kembung, namun tidak memiliki pengaruh bermakna pada rasa nyeri.
c. Rifaximin, Mikrobiota usus telah diteliti untuk menjadi target terapi IBS karena dianggap memiliki peran penting dalam perkembangan gejala. Antibiotik yang paling banyak dipelajari adalah rifaximin, antibiotik oral spesifik usus. Rifaximin diabsorpsi minimal pada saluran gastrointestinal. Penggunaan rifaximin telah diteliti dalam dua penelitian klinis besar yang melibatkan lebih dari 1200 pasien IBS tanpa konstipasi. Pada penelitian ini penggunaan rifaximin 550 mg tiga kali sehari dibandingkan dengan plasebo selama 2 minggu. Respons pasien dievaluasi selama 4 minggu periode follow-up (minggu ke-3 s/d 6). Hasilnya menunjukkan rifaximin lebih efektif secara bermakna dibandingkan plasebo untuk mengurangi gejala IBS. Perbaikan ini bertahan selama 10 minggu periode follow-up meskipun responsnya sudah mulai berkurang. Terapi ulang rifaximin menunjukkan respons serupa terapi awal. Namun, penggunaan antibiotik secara rutin tidak direkomendasikan. Penggunaannya dapat dipertimbangkan pada pasien IBS tanpa konstipasi dengan gejala sedang hingga berat yang tidak membaik dengan terapi lain.
d. Eluxadoline, Salah satu terapi baru yang sedang dikembangkan dan sudah disetujui oleh FDA untuk terapi IBS-D adalah eluxadoline.11 Eluxadoline adalah agonis kombinasi reseptor μ-opioid dan κ-opioid dan antagonis reseptor δ-opioid, dengan bioavailabilitas oral minimal. Eluxadoline (dosis 75 dan 100 mg) dievaluasi pada 2 penelitian klinis fase 3 acak, double- blind pada pasien dengan IBS-D. Respons pasien dipantau hingga minggu ke-26 dan hasilnya menunjukkan eluxadoline secara bermakna lebih efektif dalam perbaikan gejala dan konsistensi feses pasien IBS-D, terutama pada dosis 100 mg dua kali sehari. Efek samping yang utama adalah mual, konstipasi, dan nyeri abdomen.
 
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian 
1. Identitas klien, meliputi : Nama pasien, tanggal lahir,umur, agama, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, No rekam medis.
2. Keluhan utama: keluhan nyeri pada abdomen, susah buang air besar, perut terasa kembung Ketidak nyamanan abdomen  berhubungan dengan gangguan saraf lambung dan gangguan sal GI/bagian tubuh lain.
3. Riwayat kesehatan sekarang: Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan utama nyeri pada abdomen, perut terasa full dan tidak nyaman hal ini diakibatkan oleh  gangguan kontrol saraf lambung atau gangguan saluran GI. contohMakanan berlemak menyebabkan ketidakmampuan/distress abdomen karena lemak tetap berada dalam lambung lebih lamadari protein dan karbohidrat.
4. Riwayat kesehatan dahulu: Penyakit yang pernah diderita, terutama terkait GI Penggunaan obat-obatan Alergi, Riwayat MRS sebelumnya, berapa lama, dengan kasus GI. tujuannya  untuk mengumpulkan data penunjang masa lalu, data diagnostik, pembedahan dll.
5. Riwayat kesehatan keluarga: ada atau tidak adanya keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
6. Pemeriksaan fisik:
a. Aktivitas dan Istirahat 
Gejala: lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan istirahat dan tidur. 
Tanda: takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas, letargi, disorientasi, koma
b. Sirkulasi 
Gejala : adanya riwayat penyakit hipertensi, infark miokard akut, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama. 
Tanda : takikardia, perubahan TD postural, nadi menurun, disritmia, krekels, kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung.
c. Integritas ego
Gejala : stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi. 
Tanda  : ansietas, peka rangsang.
d. Eliminasi 
Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri terbakar, kesulitan berkemih, ISK, nyeri tekan abdomen, diare. 
Tanda : urine encer, pucat, kuning, poliuri, bising usus lemah, hiperaktif pada diare.
e. Makanan dan cairan 
Gejala: hilang nafsu makan, mual muntah, tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik. 
Tanda: kulit kering bersisik, turgor jelek, kekakuan, distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid, napas bau aseton
f. Neurosensori 
Gejala: pusing, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parastesia, gangguan penglihatan.
Tanda: disorientasi, mengantuk, letargi, stupor/koma, gangguan memori, refleks tendon menurun, kejang.
g. Kardiovaskuler 
Takikardia / nadi menurun atau tidak ada, perubahan TD postural, hipertensi dysritmia, krekel, DVJ (GJK)
h. Pernapasan
Gejala: merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa sputum.
Tanda: pernapsan cepat dan dalam, frekuensi meningkat
i. Seksualitas
Gejala: rabas vagina, impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita
j. Gastro intestinal
Muntah, penurunan BB, kekakuan/distensi abdomen, anseitas, wajah meringis pada palpitasi, bising usus lemah/menurun.
k. Muskulo skeletal 
Tonus otot menurun, penurunan kekuatan otot, ulkus pada kaki, reflek tendon menurun kesemuatan/rasa berat pada tungkai.
l. Integumen 
Kulit panas, kering dan kemerahan, bola mata cekung, turgor jelek, pembesaran tiroid, demam, diaforesis (keringat banyak), kulit rusak, lesi/ulserasi/ulkus.
Pemeriksaan abdomen:
a. Inspeksi: Pengamatan bentuk perut secara umum, warna kulit permukaan perut, adanyaretraksi, penonjolan, ketidaksimetrisan, jaringan perut, striae, inflamasi, pengeluaran umbilikus, gerakan perut saat inspirasi dan ekspirasi.
b. Auskultasi: Untuk mengetahui bisingusus,frekuensi, karakter, lokasi. BU normal 6-12x/mnt. BU tdk ada ditemukan pd ps pasca pembedahan, peritonitis, ileus paralitik. BU meningkat : hipermotilitas usus  pada diare/GE, obstruksi usus.
c. Perkusi:  Adanya timpani, hipertimpani, dulnes atau flat. Perkusi juga menentukan ukuran dan lokasi organ abdomen, menentukan akumulasi berlebihan dari cairan dan udara dalam abdomen. 
d. Palpasi: Untuk mengidentifikasi massa abdomen atau area nyeri tekan,dilakukan pada semua kuadran, dengan palpasi ringan (tekan ujung jari sedalam1cm) dan palpasi dalam penekanan sedalam 4 cm.
B. Diagnosa
1. Konstipasi (00011) berhubungan dengan kelemahan otot abdomen, ketidak cukupan asupan serat
2. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen cedera fisiologis
C. Kriteria Hasil
1. Konstipasi (00011) berhubungan dengan kelemahan otot abdomen, ketidak cukupan asupan serat.
Eliminasi usus: Pola eliminasi, kemudahan BAB,fases lembut dan berbentuk.
2. Nyeri akut (00132)  berhubungna dengan agen cedera fisiologis
Tingkat ketidak nyamanan: Nyeri, cemas.

D. Intervensi
1. Konstipasi (00011) berhubungan dengan kelemahan otot abdomen, ketidak cukupan asupan serat.
Manajemen konstipasi/impaksi
a. Monitor tanda dan gejala konstipasi
b. Buatlah jadwal BAB dengan cara yang tepat
c. Dukung peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontra indikasi
d. Evaluasi catatan asupan yang telah dikonsumsi 
2. Nyeri akut (00132)  berhubungna dengan agen cedera fisiologis.
Menejement nyeri:
a. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
b. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
c. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
d. Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat 
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
Seorang pasien Pria bernama Tn. L Berusia 60 tahun, datang dirumah sakit pada tanggal 10 mei 2020, jam 06.15 WITA dengan keluhan mengalami luka susah buang air besar sejak dua minggu terakhir. Kondisi tersebut sudah lama dialami namun baru disadari sejak dua minggu terakhir. Klien mengeluh belum buang air besar sejak tiga hari terakhir dengan konsistensi keras, klien juga mengeluh merasa nyeri dan keram pada perut bagian bawah. Saat dilakukan anamnesa, klien mengatakan nafsu makan menurun serta jarang beraktifitas. 
B. Pengkajian
1. Biodata pasien
a. Nama : Tn. L
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Tempat, tanggal lahir/usia : Meluhu, 13 Mei 1960
d. Alamat : Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e. Pekerjaan : petani
f. Agama : Islam
g. Suku bangsa/ras : Tolaki
h. Pendidikan terakhir : SMA sederajat
i. Diagnosa medis : Irritable bowel syndrome
2. Identitas keluarga/wali
a. Nama : Tn. A
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Usia : 37 tahun
d. Alamat : Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e. Hubungan keluarga dengan pasien : Anak pasien
3. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama saat MRS : klien mengeluh susah BAB dan belum
BAB sejak tiga hari terakhir
b. Keluhan utama saat pengkajian : klien mengeluh susah BAB dan belum
BAB sejak tiga hari terakhir serta nyeri
/keram pada perut
a. Riwayat keluhan utama : klien mengeluh susah BAB dan belum
BAB sejak tiga hari terakhir, klien
mengatakan nafsumakan menurun, klien
juga mengatakan jarang beraktifitas.
b. Riwayat kesehatan sekarang : Klien merasa keram/nyeri pada perut
bagian bawah skala nyeri 6, dengan sifat
hilang timbul, dirasakan melilit, klien
tampak meringis klien juga mengatakan
gelisah dan merasa tidak nyaman dengan
hal tersebut
c. Riwayat penyakit yang pernah diderita : -
d. Kebiasaan : Minum kopi
e. Riwayat alergi : alergi makanan (udang, kepiting dan
cumi-cumi)
f. Riwayat kehamilan : -
g. Riwayat kesehatan keluarga
Genogram 3 generasi
 
Generasi I dan II : Tidak diketahui penyebab Kematian
Generasi ke III : Meninggal karena kecelakaan kerja dan yang satu tidak diketahui secara jelas
4. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
a. Keadaan Umum : GCS 15 (composmetis)
b. Td : 140/80 MmHg
c. N : 100 X/Menit
d. S : 36,8o C
e. R : 18 X/Menit
5. Pengkajian fisik (sistem gastrointestinal)
1) Inspeksi
a) Kebiasaan perawatan gigi : 2x/hari
b) Kebersihan gigi                : bersih
c) Pemakaian gigi palsu        : tidak ada
d) Pendarahan/Lesi              : tidak ada
e) Produksi saliva                  : menurun
f) Posisi ovula                      : normal
g) Masalah menelan              : tidak ada
h) Fungsi mengunyah            : menurun
i) Terpasang NGT                : tidak ada
j) Perubahan tonsil                : tidak ada
k) Kesimetrisan abdomen      : simetris
l) Keadaan Kulit Abdomen    : normal
m) Pembesaran abdomen      : distensi abdomen
n) Bayangan vena abdominalis : tidak ada
o) Keadaan anus                    : normal
p) Heamorrhoid eksterna/interna : tidak ada
2) Auskultasi
a) Bising usus                        : kurang dari normal
b) Gerakan vaskuler              : normal
3) Palpasi
a) Pembesaran kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran
b) Nyeri tekan Abdomen        : nyeri tekan pada perut bagian bawah
c) Massa                                : tidak ada 
d) Hepar                                  : normal
4) Perkusi
a) Penimbunan cairan            : tidak ada
b) Penimbunan udara            : resonan pada abdomen
c) Batas hepar                      : normal




C. Analisa data
1. Nama : Tn. L
2. Dignosa : Irritable bowel syndrome
3. Umur : 60 th
No Data Etiologi Problem
1. Ds:
Klien mengeluh susah buang air besar dan sudah tidak buang air besar sejak tiga hari terakhir.

Do:
TTV
Td : 140/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit
Gangguan motilitas usus


Peristaltic menurun, reabsorbsi air meningkat


konstipasi


Konstipasi b.d penurunan motilitas usus
2. Ds:
Klien mengeluh nyeri pada perut bawah, dirasakan melilit, skala 6, klien nampak meringis, klien mengeluh gelisah.

Do:
Terdapat distensi abdomen

TTV
Td : 140/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit
Hipersensitifitas visceral


Sensivitas anorektal meningkat


Reflex motor direktum meningkat


Nyeri akut

Nyeri akut b.d agen cedera fisiologis

Tabel 1. Analisis data
D. Diagnosa
1. Konstipasi berhubungan (00011) dengan penurunan motilitas usus
2. Nyeri akut berhubungan (00132) dengan agen cedera fisiologis 

E. Rencana asuhan keperawatan
Nama Inisial Pasien    : Tn. L Diagnosa Medis : Irritable bowel syndrome
Umur : 60 Th No. Register

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
1. Domain : 3 Eliminasi dan pertukaran
Kelas    : 2 fungsi gastrointestinal
Kode    : 00011
Konstipasi b.d penurunan motilitas usus
ditandai dengan :
Ds:
Klien mengeluh susah buang air besar dan sudah tidak buang air besar sejak tiga hari terakhir.
Do:
TTV
Td : 140/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24  jam/menit :
Pola eliminasi (0501) (skala 1 :sangat terganggu, 2 : banyak terganggu, 3 :cukup terganggu, 4 : sedikit terganggu, 5 : tidak terganggu), 

dengan kriteria :
a. Pola eliminasi (skala 3  menjadi 4)
b. Kemudahan BAB (skala 3  menjadi 4)
Intervensi Keperawatan 
Menejemen konstipasi (0450)
Aktivitas Keperawatan 
1. Monitor tanda dan gejala konstipasi
2. Lakukan enema atau irigasi
3. Buatlah jadwal BAB dengan cara yang tepat
4. Dukung peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontra indikasi

2. Domain :12 Kenyamanan
Kelas    : 1 Kenyamanan fisik
Kode    : 00132
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
ditandai dengan :
Ds:
Klien mengeluh nyeri pada perut bawah, dirasakan melilit, skala 6, klien nampak meringis, klien mengeluh gelisah.
Do:
Terdapat distensi abdomen
TTV 
Td : 140/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24  jam/menit :
Tingkat ketidaknyamanan (2109) (skala 1 :berat, 2 : cukup berat, 3 :sedang, 4 : ringan, 5 : tidak ada), 

dengan kriteria :
a. Nyeri skala (3 menjadi 4)
a. a. Intervensi Keperawatan 
Menejemen nyeri (1400)
Aktivitas Keperawatan 
1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
2. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
4. Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
Tabel 2. Rencana asuhan keperawatan

F. Implementasi & evaluasi
Nama Inisial Pasien : Tn. R Diagnosa Medis : Irritable bowel syndrome
Umur : 24 Th No. Register
Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
Jam Tanggal : 10 Mei 2020 Hari/tanggal: 13 mei 2020
Jam : 06.30
Domain : 3 Eliminasi dan pertukaran
Kelas    : 2 fungsi gastrointestinal
Kode    : 00011
Konstipasi b.d penurunan motilitas usus
07.00 1. Memonitor tanda dan gejala konstipasi
Hasil : tanda dan gejala yang timbul, BAB yang keras dan susah keluar, tidak BAB selama tiga hari atau lebih, konsistensi feses yang keras.
2. Melakukan enema atau irigasi
Hasil: Pemasangan enema dilakukan dan berhasil mengeluarkan feses yang keras
3. Membuat jadwal BAB dengan cara yang tepat
Hasil: Paasien diharapkan BAB sekuran-kurangnya sekali sehari, dianjurkan pada pagi hari
4. Mendukung peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontra indikasi.
Makanan disesuaikan oleh ahli gisi dipelayanan kesehatan sesuai masalah kesehatan yang ada.
S:klien mengatakan fases yang keluar mulai lembek, meski jadwal BAB masih belum teratur
O:Pasien nampak lebih nyaman dari kondisi sebelumnya
TTV
Td : 130/80 MmHg
N : 80 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit
A:masalah belum teratasi
P: pasien pulang intervensi dihentikan

Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas    : 2 cedera fisik
Kode    : 00046
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera fisiologis
1. Melakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
Hasil : Adanya peningkatan reflex motor direktum menjadi pemicu timbulnya nyeri,durasi yang tidak menentu antara 30 detik hingga 1 menit dan hilang timbul.
2. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
Hasil : pasien merasakan nyeri pada abdomen bagian bawah dan meras kembung
3. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
Hasil : Nyeri yang dirasakan timbul akibat Adanya peningkatan reflex motor direktum 
4. Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat 
Hasil : pemberian ketorolac S: Klien mengatakan nyeri/keram pada perut berkurang, begitupun dengan kembung yang dialami
O:pasien tidak Nampak meringgis
A:masalah belum teratasi
P: intervensi dihentikan pasien pulang

Tabel 3. Implementasi dan evaluasi

 
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah penyakityang bersifat kronis tidak bersifat mengancam nyawa namun penyakit ini menyebabkan gangguan kenyamanan dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Penyakit ini lebih sering menyerang lansia karena pada lansia terjadi penurunan motilitas pada usus, serta lansia yang sering mengalami penurunan nafsu makan diusia lanjut. Pencegahan terjadinya IBS ini, dapat dilakukan dengan cara, mengatur pola buang air besar, makan makanan berserat, mengelola stress dengan baik, istirahat yang cukup serta melakukan olahraga ringgan untuk merangsang pergerakan motilitas usus.
Rumusan asuhan keperawatan keperawatan pada kasus Irritable Bowel Syndrome dari makalah ini, umumnya sama pada asuhan keperawatan lainnya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implenentasi dan evaluasi, dengan buku nanda nic noc sebagai bahan acuan. Pada kasus Irritable Bowel Syndrome ini saya menggunakan pengkajian KMB dengan pendekatan pada sistem gastrointestinal.
B. Saran
1. Bagi mahasiswa, intervensi yang dilakukan diatas dapat diterapkan untuk kasus Irritable Bowel Syndrome. Namun, intervensi dapat lebih berkembang lagi dengan menyesuaikan masalah tingkat keparahan dan masalah kesehatn yang menyertai sehingga dibutuhkan pengembangan materi selanjutnya.
2. Makalah ini juga dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat kususnya pada lansia tentang Irritable Bowel Syndrome.
3. Bagi ilmu keperawatan, makalah ini juga dapat dijadikan sebagai referensi tambahan mengenai Irritable Bowel Syndrome pada lansia.



DAFTAR PUSTAKA
anandita Nur Safira (2015) ‘Irritable bowel syndrome’, Key Topics in General Surgery, 4, pp. 167–168. doi: 10.1177/1755738019855099.
Beatty, J. K. et al. (2014) ‘Sindrom iritasi usus pasca infeksi : wawasan mekanis terhadap gangguan kronis setelah infeksi enterik’, 20(April), pp. 3976–3985.
Charnoff, S. M. et al. (2013) ‘Irritable bowel syndrome [2]’, Annals of Internal Medicine, 123(6), p. 471. doi: 10.7326/0003-4819-123-6-199509150-00017.
Imanuela, J., Sulistiono, D. and Malinti, E. (2019) ‘FREKUENSI ASUPAN MAKANAN SUMBER SERAT DAN KEJADIAN KONSTIPASI PADA LANSIA ADVENT DAN NON-ADVENT’, 1(2), pp. 8–12.
Pratama, A. (2017) ‘Hubungan Derajat Stres Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Terhadap Kejadian Irritable Bowel Syndrome’. Available at: http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/4980.
Selina, C. et al. (2019) ‘Bowel Syndrome ( IBS ) Peppermint ( Mentha piperita ) as Alternative Medicine in Irritable Bowel Syndrome ( IBS )’, 8, pp. 211–219.
Shalim, C. P. (2019) ‘Diagnosis dan Tatalaksana Irritable Bowel Syndrome’, Continuing Medical Education, 46(12), pp. 754–758.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Konsep pertolongan pada kegawatan darurat maritim

Maritim Askep KARSINOMA SEL BASAL